Group 1321314532 (2)

Upaya Komunitas Produsen dan Konsumen Mengatasi Food Loss dalam Praktik CSA Tani Sauyunan

Saat sedang menyendok seporsi tumis sayur hangat, rasanya enak dan warnanya segar.
Di balik semua itu, pernahkah kita memikirkan bagaimana perjalanan sayur ini sebelum sampai ke piring kita?

***

Sebuah tomat yang ada di piring bermula dari benih kecil yang disemai dan tumbuh di tanah, disiram dan dirawat setiap hari, lalu dipanen dengan sangat hati-hati. Tidak hanya itu, dalam perjalanan panjang ini masih banyak rintangan yang muncul. Mulai dari cuaca yang tidak bersahabat hingga transportasi yang medannya sulit, yang membuat beberapa tomat tertekan. Hingga harga pasar yang jatuh dan membuat panen tidak terserap seluruhnya. Tidak hanya itu, ada juga tomat yang disisihkan hanya karena bentuknya tidak sesuai standar, meskipun sebenarnya masih layak makan.

Hal ini menunjukkan untuk sampai di piring kita, sebuah tomat memerlukan perjalanan yang sangat panjang, namun tidak semua tomat hasil petani dapat sampai ke tangan kita. Fenomena ini disebut food loss atau susut pangan. 

Gambar 1. Contoh food loss atau susut pangan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Bentuknya macam-macam, misalnya sayuran rusak saat dipanen, layu atau patah di jalan karena perjalanan, tersisih saat proses pengemasan karena ukuran dan bentuknya dianggap tidak sesuai standar pasar. Padahal dari penyusutan makanan dengan penyebab-penyebab itu, sebagian besar masih layak dikonsumsi. Menurut kajian BAPPENAS (2021) di Indonesia, food loss dan waste mencapai sekitar 48 ton per tahun atau setara 184 kilogram per orang dalam satu tahun. Sedangkan di Kota Bandung sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2020, sampah sisa makanan dan daun  mencapai 772,69 meter kubik per hari atau sekitar 44,51 persen dari total produksi sampah kota. Artinya hampir separuh sampah harian Bandung berupa sampah sisa makanan dan daun. Namun ironisnya, meskipun sampah sisa makanan banyak, ternyata di sisi lain masih ada persoalan gizi yang belum teratasi. Open Data Jabar menunjukan masih adanya stunting balita di Kota Bandung sejak 2014 dan pada 2024 tercatat 8,85 persen. Artinya, di saat begitu banyak pangan yang tidak termanfaatkan, masih banyak anak yang tumbuh dengan keterbatasan asupan gizi. 

Sebagai upaya menjawab permasalahan tersebut, terutama dari tingkat komunitas dan akar rumput, hadir inisiatif CSA (Community Supported Agriculture) Tani Sauyunan di Bandung. Dalam CSA pangan tidak cukup hanya diproduksi, tetapi juga harus dijaga agar tidak terbuang. Dengan sistem CSA, petani dan konsumen terhubung langsung dengan demikian konsumen mengetahui identitas petani yang menanam sayurannya. Dengan cara ini, tanaman yang ditanam petani sudah sudah pasti ada yang menerima, sehingga risiko panen menumpuk karena harga pasar yang anjlok bisa ditekan. Odang, salah satu petani mitra, merasakan manfaatnya. “Kadang yang banyak bikin terbuang itu kalau petani sudah merawat tanaman sebaik-baiknya, tapi pas panen harga pasar lagi turun, jadi banyak yang tidak kejual. Beda kalau saya, enak, sudah tahu nanti panen harga perkilonya berapa.”

Dari cerita itu, terlihat bahwa sistem CSA memberi kepastian bagi petani. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga pasar, karena hasil panen sudah ada yang menanggung. Hal ini bukan hanya mengurangi risiko food loss, tetapi juga memberi rasa tenang dan semangat baru bagi petani untuk terus merawat tanamannya dengan baik.

Peran Produsen CSA Tani Sauyunan dalam Mengurangi Susut Pangan

Para petani mitra CSA Tani Sauyunan juga punya cara masing-masing untuk memastikan tidak ada sayur yang terbuang sia-sia. Menariknya, banyak solusi itu datang langsung dari petani mitra itu sendiri. Bukan berupa program besar dari luar, melainkan inisiatif sehari-hari yang tumbuh dari kebiasaan dan kebutuhan lokal. Salah satu contohnya adalah pada kebun mitra Odang (Desa Mekarwangi, Kec. Lembang, Kabupaten Bandung Barat).

Gambar 2. Bedeng Kebun Odang
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Odang memiliki cara tersendiri dalam mengatasi susut pangan, sayur yang patah, layu, ataupun yang mengalami gagal panen di masukan kembali ke bedeng sebagai bahan organik. Beliau memiliki persepsi bahwa daripada dibuang, lebih baik menjadi pupuk alami. Dalam beberapa minggu, bagian itu berubah jadi pupuk alami akan menutrisi tanah. Untuk beberapa komoditas tertentu, Odang menjadikannya sebagai pakan kambing.

Gambar 3. Loseda (Lodong Sesa Dapur)
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Selain itu di petani mitra lain, salah satunya Buruan Sae BTR Berkah yang dikelola oleh Rukijan, mempraktikkan dengan membuat LoSeDa di tengah bedengannya. Di Buruan Sae, petani menggunakan LoSeDa (Lodong Sesa Dapur). Bentuknya pipa paralon yang ditanam ke tanah dengan lubang-lubang kecil di sisinya. Sisa makanan atau sayuran yang tidak terpakai dimasukkan ke dalamnya, lalu perlahan diurai oleh mikroorganisme dan cacing tanah. Hasilnya menyuburkan tanah di sekitarnya. 

Gambar 4. Biopori Ember
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Selain itu, ada pula biopori ember di Buruan Sae Minabun As-Salam, Sokib, salah satu pengelolanya, memanfaatkan pipa paralon di tengah ember sebagai tempat membuang sisa sayur dan limbah dapur. Bahan organik tersebut diurai langsung di dalam tanah ember, sehingga menghasilkan nutrisi alami yang menyuburkan tanaman.

Gambar 5. Kompos Lasagna
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Pengurangan susut pangan juga dilakukan di kebun Seni Tani lewat pembuatan kompos. Daun kering, jerami, kardus bekas (lapisan kering) ditumpuk bergantian dengan sisa sayur, rumput hijau, dan pucuk tanaman (lapisan basah). Susunan berlapis ini disebut lasagna compost. Setiap hari tumpukan dijaga kelembaban dan suhunya, hingga berubah menjadi kompos yang siap diaplikasikan ke bedengan untuk menjaga kesuburan tanah tanpa perlu pupuk kimia.

Gambar 6. Compost Bin
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Di kebun Seni Tani juga dipasang compost bin di beberapa titik lahan. Ember yang ditanam ke dalam tanah ini menjadi wadah sisa makanan, sisa panen atau daun dan rumput di kebun seni tani. Di dalamnya, bakteri dan cacing bekerja menguraikan limbah organik, hasilnya menyuburkan sekaligus menggemburkan tanah di sekitarnya. 

Peran Konsumen CSA Tani Sauyunan dalam Mengurangi Susut Pangan

Semua praktik ini sederhana, tapi dampaknya besar. Limbah sayur yang tadinya berpotensi menjadi masalah, justru kembali lagi menjadi sumber kehidupan bagi tanah. Keterlibatan konsumen CSA juga penting dalam mengurangi food loss atau susut pangan ini. 

Gambar 7-11. Sayur dengan Bentuk dan Warna Unik
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Kayla Munaa S. S./2025)

Hal yang biasanya tidak terlihat di supermarket atau pasar adalah sayuran dengan bentuk unik. Di sana semuanya sudah disortir, sehingga konsumen hanya menemukan hasil panen yang seragam. Berbeda dengan menjadi anggota CSA, paket sayur yang datang bisa berisi lobak dengan beberapa cabang, wortel bengkok, tomat kecil, atau selada yang tumbuh miring. Alih-alih dianggap cacat, banyak anggota justru menganggapnya sebagai “hadiah kejutan” dari kebun. Sayur ‘imperfect’ ini tetap dimasak, dikreasikan, dan menjadi bagian dari hidangan keluarga bukti bahwa pangan tidak harus sempurna bentuknya untuk bernilai. 

Dalam pengamatan saya, proses ini juga produktif secara ekonomi. Petani mendapatkan kepastian pendapatan dan dukungan moral karena hasil panennya tidak disia-siakan. Sementara konsumen mendapatkan pangan sehat dan segar sebuah win-win solution. Lingkungan pun diuntungkan karena lebih sedikit sampah organik menumpuk di TPA dan lebih banyak karbon kembali ke tanah.

Kesadaran kecil ini membuat perbedaan besar. Petani merasa hasil kerjanya dihargai, tanah tetap mendapatkan kembali nutrisi dari sisa yang tak terpakai, dan konsumen belajar bahwa “cantik” bukanlah satu-satunya ukuran dari makanan yang baik. Dengan cara itu, tidak ada lagi yang terbuang sia-sia.

Adanya hubungan antara konsumen dan petani juga memberi semangat baru bagi petani. Salah satu contohnya, ketika seorang anggota CSA memuji siomak dari kebun Odang  yang terasa segar dan enak, minggu berikutnya Odang langsung panen siomak lebih banyak dari biasanya. Bukan karena permintaan pasar, tapi karena ia merasa dihargai dan ingin membalas kepercayaan anggota. Hal ini menunjukkan bahwa apresiasi kecil dari konsumen bisa menjadi energi besar bagi petani.

Dengan ini dapat terlihat kelebihan CSA dapat membangun jembatan antara petani dan konsumen, memperkuat ekosistem kebun, dan mengubah kebiasaan kita dalam memandang pangan. Setiap sayur, meski bentuknya tak sempurna, punya tempat. Setiap sisa, bila dikembalikan dengan benar, punya peran dan setiap paket CSA yang tiba di rumah anggota membawa bukan hanya makanan, tapi juga cerita tentang kerja sama, keberlanjutan, dan rasa syukur pada tanah yang memberi.

Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)

Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan. 

Tentang Urban Futures (UF)

Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.

Frame 1686555751 (1)

Penulis:

Kayla Munaa Salsabiil Sukarna

Tim Seni Tani

Baca Juga Tentang

Dalam beberapa dekade terakhir, sistem pangan global menghadapi berbagai persoalan yang semakin nyata: kerusakan lingkungan akibat pertanian intensif, ketimpangan ekonomi

Merawat Kedekatan dalam Komunitas Pangan Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan tumbuh dari gagasan sederhana namun kuat: bahwa pangan yang

Isu ketahanan pangan dan pengelolaan limbah kini menjadi perhatian global yang semakin mendesak. Dunia menghadapi tantangan besar akibat pertumbuhan populasi,

Gambar 1. Tian ala Seni Tani (Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025) Salam dari Tian, menu makanan klasik dari Prancis Selatan. Terbuat

Pernahkah kita berhenti sejenak sebelum makan dan bertanya: dari mana sebenarnya makanan ini berasal? Di tengah kehidupan kota yang serba

Apa jadinya jika 96% pangan Bandung yang berasal dari luar kota terhenti karena bencana? Kemarau panjang, gagal panen, dan keterputusan