Pernahkah kita berhenti sejenak sebelum makan dan bertanya: dari mana sebenarnya makanan ini berasal? Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, kita jarang menyadari bahwa di balik setiap suapan, ada jarak panjang yang memisahkan kita dari tanah, petani, dan proses hidup yang melahirkan pangan itu sendiri.
***
Keterasingan Manusia Perkotaan dari Pangan
Selama menempuh studi di Biomanajemen ITB, saya banyak berinteraksi dengan petani, konsumen, aktivis pangan, dan komunitas pangan di Bandung. Dari pengalaman itu, saya menyadari ada persoalan besar yang jarang disadari dalam sistem pangan kota: keterpisahan antara manusia perkotaan dan pangannya sendiri.
Bagi banyak orang kota, makanan hanya perlu tersedia dan mudah didapat. Namun di balik kenyamanan itu, ada jarak yang kian lebar antara mereka yang makan dan mereka yang menanam. Kita tidak lagi tahu siapa yang memproduksi pangan kita, bagaimana prosesnya, atau kondisi alam tempat pangan itu berasal.
Melalui kacamata politik ekologi kritis, saya memahami bahwa masalah ini bukan sekadar soal logistik, tetapi soal kekuasaan. Cara kita memproduksi dan mengonsumsi pangan dibentuk oleh sistem ekonomi dan politik yang membuat pangan menjadi sekadar komoditas. Dalam sistem ini, relasi antara manusia, alam, dan pangan diatur oleh logika pasar yang menekankan efisiensi dan keuntungan.
Untuk memahami fenomena ini, dua gagasan penting dapat membantu: (1) Food Regime dari Philip McMichael yang menjelaskan bagaimana sistem pangan dunia dibentuk oleh kekuatan ekonomi-politik global, dan (2) Subject Formation dari Michel Foucault yang membantu kita memahami bagaimana manusia kota dibentuk menjadi konsumen modern yang pasif terhadap asal-usul pangannya.
Makanan yang Berasal dari “Entah di Mana”
Bayangkan pagi di kota besar. Kirana, seorang ibu muda, membuka aplikasi pesan-antar makanan di ponselnya. Dalam beberapa detik, ia memilih menu sarapan nasi ayam goreng, kopi susu, dan camilan kecil, semuanya dipesan lewat aplikasi daring. Tak sampai setengah jam, makanan hangat sudah tiba di depan pintu rumahnya. Ia tak perlu tahu siapa yang memasak, dari mana bahan-bahannya berasal, atau sejauh apa perjalanan yang ditempuh makanan itu sebelum sampai ke mejanya.
Kenyamanan semacam ini telah menjadi wajah baru relasi manusia dengan pangan. Di satu sisi, teknologi memberi kemudahan luar biasa. Namun di sisi lain, teknologi juga menciptakan jarak, jarak antara manusia dengan sumber makanannya, antara konsumsi dan produksi. Fenomena ini dikenal sebagai food distanciation, atau keterpisahan pangan, di mana makanan seolah hadir begitu saja tanpa jejak sosial dan ekologis di baliknya.

Gambar 1. Petani Modern dalam Sistem Pangan Industri
(Credit Foto: Pixabay – PublicDomainImages/2014)
Kondisi ini merupakan bagian dari sistem yang lebih besar: apa yang disebut McMichael (2009) sebagai rezim pangan global. Jika dulu pangan mengalir dari koloni ke Eropa, lalu menjadi alat politik pada masa Perang Dingin, kini sistem pangan dunia dikendalikan oleh korporasi multinasional yang menguasai benih, teknologi, dan distribusi global.
Kita hidup dalam apa yang disebut sebagai “food from nowhere regime” yaitu rezim pangan dari “entah di mana”. Dalam rezim ini, konsumen tidak lagi memiliki hubungan dengan petani, tanah, atau alam. Pangan menjadi sekadar produk yang dibeli, bukan lagi bagian dari kehidupan yang dijalani.
Keterpisahan itu tidak hanya karena jarak geografis, tetapi juga karena cara kita dibentuk sebagai konsumen. Kita hidup dalam budaya yang membuat berbelanja di supermarket atau memesan makanan lewat aplikasi terasa begitu normal bahkan ideal.
Dari “Supermarket People” ke “Digital Food Consumers”
Supermarket mengajarkan kita bahwa pangan harus selalu tampak segar, bersih, dan tersedia kapan saja. Dari sinilah muncul tipe konsumen yang disebut Galt dkk. (2019) sebagai “Supermarket People” yaitu mereka yang terbiasa dengan kenyamanan dan berlimpahnya pilihan, tanpa perlu tahu siapa yang menanam atau bagaimana makanan itu diproduksi.

Gambar 2. Seorang Ibu Belanja Pangan di Supermarket
(Credit Foto: Unsplash – Daria Trofimova/2022)
Dalam kacamata Foucault, kondisi ini bukan kebetulan. Melainkan hasil dari proses pembentukan subjek (subject formation) yaitu cara halus di mana kekuasaan membentuk individu agar bertindak, berpikir, dan merasakan dengan cara tertentu tanpa perlu dipaksa. Melalui apa yang disebut Foucault (1991) sebagai governmentality, pasar dan institusi modern mengatur perilaku kita bukan lewat larangan, tetapi lewat normalisasi nilai-nilai seperti efisiensi, kenyamanan, dan pilihan bebas.
Konsumen modern merasa otonom karena bisa memilih antara berbagai merek dan menu, padahal pilihan itu telah diatur oleh struktur pasar yang membatasi ruang refleksi. Kita menjadi subjek yang “mengatur diri sendiri” sesuai logika ekonomi mulai dari disiplin terhadap waktu, efisien dalam pengeluaran, dan produktif dalam konsumsi. Foucault menyebut mekanisme ini sebagai bentuk kekuasaan yang bekerja melalui internalisasi: individu tidak dipaksa dari luar, tetapi menyesuaikan diri dari dalam.
Kini, di era digital, bentuk subjek ini berkembang menjadi “Digital Food Consumers” Layanan pesan-antar makanan secara daring memperkuat logika yang sama: kecepatan dan kemudahan menjadi ukuran utama nilai pangan. Dengan bantuan algoritma, aplikasi menentukan menu yang “paling relevan” atau “paling disukai,” menjadikan konsumen semakin pasif namun merasa berdaya.
Filsuf Byung-Chul Han (2019) menyebut kondisi ini sebagai bentuk kekuasaan baru dengan istilah “psikopolitik.” Kekuasaan tidak lagi menindas secara langsung, tetapi menanamkan ilusi kebebasan. Kita percaya bahwa setiap klik adalah pilihan pribadi, padahal sistem telah mengarahkan keinginan kita. Kita tidak hanya mengonsumsi makanan, tetapi juga mengonsumsi narasi tentang efisiensi, gaya hidup, dan kebahagiaan yang diproduksi oleh pasar.
Supermarket dan aplikasi digital tersebut, dengan demikian, bukan sekadar sarana distribusi pangan tetapi merupakan institusi pembentuk subjek neoliberal yaitu tempat di mana nilai-nilai pasar, kenyamanan, dan efisiensi ditanamkan ke dalam diri kita. Dalam sistem ini, makanan kehilangan konteks sosialnya dan berubah menjadi sekadar objek transaksi, sementara manusia kehilangan dimensi reflektifnya sebagai bagian dari jaringan kehidupan.
Pembentukan Komunitas Konsumen Berkesadaran
Melalui program Urban Futures (UF), konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) bersama Seni Tani berupaya menjawab persoalan keterpisahan pangan di masyarakat perkotaan melalui penguatan inisiatif Community Supported Agriculture (CSA) yang disebut Tani Sauyunan. Inisiatif ini digerakkan oleh kelompok orang muda di Kota Bandung. UF sendiri merupakan program global berdurasi lima tahun (2023–2027) yang diinisiasi oleh Humanis untuk mendorong integrasi antara sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim di berbagai kota dunia. Sejalan dengan itu, Konsorsium PUPA yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani memiliki fokus pada peningkatan partisipasi aktif generasi muda, termasuk kelompok marginal, dalam kegiatan produktif ekonomi, sosial, dan lingkungan yang memberi manfaat tidak hanya bagi mereka sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas.
Saat ini, Konsorsium PUPA sedang menjalankan program penguatan CSA dengan cara membangun komunitas konsumen yang mengembalikan hubungan antara manusia perkotaan dan pangan dengan cara yang lebih langsung dan berkesadaran. Dalam sistem CSA, warga kota diajak untuk menjadi anggota komunitas yang berlangganan hasil panen mingguan dari petani lokal. Mereka tidak hanya membeli sayur, tetapi juga ikut berbagi risiko dan memahami proses pertanian. Pertemuan dengan petani, kunjungan kebun, kegiatan belajar bersama, hingga musyawarah anggota membuat konsumsi pangan menjadi pengalaman sosial dan ekologis.

Gambar 3. Makan Berkesadaran dalam Musyawarah Anggota CSA Tani Sauyunan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
CSA Tani Sauyunan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari kebijakan besar. Perubahan bisa hadir dari ruang-ruang komunitas kecil yang menumbuhkan kesadaran dan praktik baru dalam keseharian. Dengan cara ini, jarak antara manusia, pangan, dan alam mulai direkatkan kembali. Konsumen belajar memperlambat ritme hidup, menghargai kerja petani, dan menyadari bahwa setiap makanan yang hadir di meja adalah hasil dari jejaring kehidupan yang saling bergantung.
Penutup: Dari Kenyamanan ke Kesadaran
Kita hidup di zaman di mana kenyamanan sering kali menutupi keterasingan. Makanan yang mudah didapat justru menjauhkan kita dari sumber kehidupannya. Namun gerakan seperti CSA Tani Sauyunan menunjukkan bahwa ada jalan lain yaitu jalan untuk membangun kembali hubungan yang lebih sadar, etis, dan berkelanjutan antara manusia dan pangan. Di tengah arus konsumsi instan dan algoritma pasar, upaya-upaya kecil semacam ini menjadi penting. Upaya tersebut menandai lahirnya konsumen baru yang tidak hanya makan, tetapi juga memahami dan merawat kehidupan di balik setiap suapan.**
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Referensi
Foucault, M. (1991). Governmentality. In G. Burchell, C. Gordon, & P. Miller (Eds.), The Foucault effect: Studies in governmentality (pp. 87–104). University of Chicago Press.
Galt, R., Smith, S., & McFadden, S. (2019). Challenges in connecting urban consumers to sustainable agriculture: The case of Community Supported Agriculture (CSA). Agriculture and Human Values, 36(1), 1–13. https://doi.org/10.1007/s10460-018-9887-5
Han, B.-C. (2015). Psychopolitics: Neoliberalism and new technologies of power. Verso.
McMichael, P. (2009). Food regimes and agri-food systems. In A. H. Hovorka (Ed.), Agricultural change and food security (pp. 28–42). Springer.