Group 1321314532 (2)

Pelatihan Anggota CSA Tani Sauyunan: Dari Anggota, Untuk Anggota

Dalam rangka pelaksanaan program Urban Futures (UF), sebuah program konsorsium PUPA yang terdiri dari Seni Tani dan AKATIGA dengan YPBB sebagai pengamat serta didukung oleh Humanis Foundation, Pelatihan Konsumen CSA digelar pada Minggu, 10 Agustus 2025 di Kebun Seni Tani. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Anggota CSA Tani Sauyunan yang dilaksanakan sebanyak tiga kali sepanjang April-November 2025. 

Pelatihan ketiga ini mengangkat tema “dari Anggota, untuk Anggota”, sebuah tema yang lahir dari diskusi reflektif pada 24 Mei 2025 dan sarasehan pada 22 Juni 2025. Dari pertemuan tersebut, para anggota CSA menyampaikan keinginan untuk lebih terlibat, tidak hanya sebatas menerima paket sayur mingguan, tetapi juga ikut berbagi pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi sesama. Bagi Seni Tani, tema ini sejalan dengan semangat yang sejak awal dibangun, yaitu CSA yang bukan sekadar sistem langganan sayur, melainkan sebuah komunitas yang tumbuh bersama. Dengan melibatkan anggota sebagai pemateri, acara ini menjadi ruang belajar yang hangat, dekat, dan relevan dengan kebutuhan nyata.

Salah satu kebutuhan yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan yang disampaikan anggota di acara sebelumnya adalah pengetahuan tentang penyimpanan dan persiapan sayur agar tahan lebih lama, yang kemudian menjadi materi utama pelatihan ini. Bagi komunitas CSA Tani Sauyunan, topik ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan keseharian anggota. Paket sayur yang dikirim setiap minggu jumlahnya cukup banyak dan beragam, sehingga tanpa cara penyimpanan yang tepat, sebagian bisa cepat layu dan akhirnya terbuang. Melalui pelatihan ini, anggota tidak hanya mendapatkan keterampilan praktis untuk merawat sayuran, tetapi juga semakin memahami nilai dari setiap hasil panen. Inilah yang sejak awal ingin dibangun Seni Tani, sebuah komunitas yang bukan hanya menerima, melainkan juga merawat dan menghargai pangan yang ditanam dengan penuh usaha.

Minggu pagi yang cerah, di Kebun Seni Tani yang berlokasi di Jl. Cigadung Selatan Dalam III No. 98C, Cigadung, Kec. Cibeunying Kaler, Kota Bandung terasa ramai sejak pukul tujuh. Satu per satu peserta Pelatihan Konsumen CSA datang dan mendaftar di meja registrasi. Beberapa membawa makanan untuk dihidangkan saat sarapan bersama, ada jamu segar, kombucha, aneka kue, siomay, dan masih banyak lagi. Mereka yang datang lebih awal memilih berkeliling kebun, berbincang santai dengan tim Seni Tani, atau langsung menggelar matras di bawah pepohonan untuk sesi yoga pagi.  Acara dipandu oleh Ryhan Aulia, anggota CSA Tani Sauyunan, yang membuka suasana dengan ramah setelah itu dibuka oleh Fathan selaku perwakilan dari Seni Tani.

Gambar 1. Yoga Pagi
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)

Kegiatan dimulai dengan yoga bersama Karlia Meitha, anggota CSA Tani Sauyunan yang juga sebagai instruktur yoga. Di bawah sinar matahari pagi dan udara Bandung yang sejuk, peserta mengikuti gerakan peregangan sederhana untuk menyegarkan tubuh. Yoga pagi ini membuat suasana lebih rileks dan membantu semua orang siap menjalani rangkaian acara Setelah itu, Irene, anggota CSA Tani Sauyunan, memandu permainan Spider Web. Permainan ini sederhana tapi berhasil membuat suasana mencair dan peserta lebih akrab satu sama lain. Banyak peserta yang baru pertama kali bertemu jadi lebih akrab, seolah sudah saling kenal lama.

Permainan selesai, acara berlanjut ke sesi snack pagi dengan mencicipi cinnamon roll yang dibuat oleh Ida Sitompul dari Komunitas 1000Kebun dan jus honje yang dibuat oleh Lita Mulia anggota CSA Tani Sauyunan. Beberapa peserta juga ikut membawa beberapa snack lainnya untuk dinikmati bersama. Sesi snack ini menjadi awal yang baik untuk kembali mengingat nilai gotong-royong yang menjadi dasar gerakan CSA.

Gambar 2. Penyampaian Materi dari Bu Noveni
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)

Setelah sarapan, peserta diarahkan ke sesi inti pelatihan yang dipandu oleh Noveni, anggota CSA yang sudah beberapa tahun berlangganan paket Seni Tani. Dalam sesi ini, beliau berbagi pengalaman bahwa menjadi anggota CSA bukan hanya soal menerima paket sayur mingguan, tetapi juga merawat bahan pangan agar tidak cepat rusak dan terbuang. Paket sayur yang dikirim setiap minggu biasanya cukup beragam dan banyak, sehingga diperlukan metode penyimpanan yang tepat agar sayuran dapat bertahan segar hingga satu minggu.

Bu Noveni menjelaskan bahwa banyak sayuran cepat busuk bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena cara penyimpanannya yang kurang tepat. Beliau memperagakan teknik sederhana yang beliau terapkan di rumah dengan sayuran dicuci bersih, dikeringkan, lalu dipetik bagian yang patah atau mulai menguning agar tidak menyebar ke bagian lain. Potongan sayuran yang dipetik ini tidak dibuang, melainkan langsung dimasak agar tetap bermanfaat. Setelah itu, sayuran dibungkus menggunakan kain lap lembap sebelum dimasukkan ke wadah tertutup. Metode ini terbukti membantu sayuran bertahan lebih lama sekaligus mengurangi limbah dapur.

Gambar 3. Sesi Praktik Food Prep
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)

Kain lap yang digunakan dalam praktik ini juga punya cerita tersendiri. Lap-lap tersebut dibuat dari potongan kain sisa yang dikumpulkan dan dijahit ulang oleh Jahitku, sebuah usaha milik salah satu anggota CSA. Dengan memanfaatkan kain ini, pelatihan tidak hanya mengajarkan keterampilan penyimpanan sayur, tetapi juga mengajak peserta melihat cara sederhana mengurangi sampah tekstil dan memberi nilai baru pada bahan sisa.

Setelah penjelasan, peserta langsung praktik. Mereka dibagi menjadi kelompok kecil dan duduk melingkar di tikar. Setiap kelompok mendapat satu nyiru berisi jagung dan pakcoy, dilengkapi pisau, sementara tiap peserta memperoleh dua wadah dan dua kain lap. Suasananya ramai namun santai; semua orang terlihat antusias mencoba teknik membungkus sayur yang baru dipelajari. Hasil praktik ini bukan hanya sekadar latihan, tetapi juga menjadi oleh-oleh, setiap peserta membawa pulang sayur yang sudah mereka siapkan lengkap dengan wadah dan kain lapnya.

Gambar 4. Makan Siang Berkesadaran
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)

Menjelang siang, peserta mengikuti sesi makan siang berkesadaran yang dipandu oleh tim Green Smoothie Factory (GSF). Seluruh hidangan disiapkan dengan bahan-bahan segar yang beberapa diantaranya didapatkan dari petani mitra Seni Tani, sehingga peserta bisa merasakan langsung hasil panen yang selama ini mereka dukung.

Makan siang disajikan secara bertahap dari makanan pembuka, makanan utama, penutup, hingga minuman. Saat piring datang, orang-orang melihat lalu menghirup aroma sambil mendengar cerita tentang filosofi menu dan asal-usul bahan yang digunakan. Penjelasan ini membuat pengalaman makan terasa lebih bermakna, peserta tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga mengenal cerita di balik setiap sajian. Cara ini dikenal sebagai slow food, sebuah pendekatan yang menolak budaya makan serba cepat dan cepat saji. Slow food menekankan makanan yang baik dari segi rasa, diproduksi secara bersih tanpa merusak lingkungan, dan adil bagi mereka yang bekerja menanam dan mengolahnya. Di suasana hangat dan santai, ketika penyaji menceritakan filosofi setiap bahan, setiap suapan terasa seperti dukungan kecil bagi petani dan semua yang bekerja di balik layar sampai bahan itu tiba di piring.

Pelatihan Konsumen CSA pada 10 Agustus 2025 ini menjadi ruang belajar dan berbagi yang mempertemukan anggota CSA, tim Seni Tani, dan petani mitra dalam suasana akrab. Melalui kegiatan yang dirancang dari pagi hingga siang mulai dari yoga, permainan, sarapan bersama, praktik penyimpanan sayur, hingga makan siang berkesadaran peserta diajak untuk mengenal lebih dekat perjalanan pangan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Setiap peserta tidak hanya pulang dengan sayur, wadah, dan kain lap, tetapi juga membawa keterampilan baru, pemahaman tentang cara mengurangi limbah pangan, serta rasa keterhubungan yang lebih kuat dengan para petani. Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa keanggotaan CSA bukan hanya tentang berlangganan sayur mingguan, tetapi juga tentang membangun gerakan bersama untuk mendukung pertanian lokal, mengurangi sampah, dan menciptakan sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)

Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan. 

Tentang Urban Futures (UF)

Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.

Frame 1686555751 (1)

Penulis:

Kayla Munaa Salsabiil Sukarna

Tim Seni Tani

Baca Juga Tentang

Dalam beberapa dekade terakhir, sistem pangan global menghadapi berbagai persoalan yang semakin nyata: kerusakan lingkungan akibat pertanian intensif, ketimpangan ekonomi

Merawat Kedekatan dalam Komunitas Pangan Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan tumbuh dari gagasan sederhana namun kuat: bahwa pangan yang

Isu ketahanan pangan dan pengelolaan limbah kini menjadi perhatian global yang semakin mendesak. Dunia menghadapi tantangan besar akibat pertumbuhan populasi,

Gambar 1. Tian ala Seni Tani (Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025) Salam dari Tian, menu makanan klasik dari Prancis Selatan. Terbuat

Pernahkah kita berhenti sejenak sebelum makan dan bertanya: dari mana sebenarnya makanan ini berasal? Di tengah kehidupan kota yang serba

Apa jadinya jika 96% pangan Bandung yang berasal dari luar kota terhenti karena bencana? Kemarau panjang, gagal panen, dan keterputusan