Merawat Kedekatan dalam Komunitas Pangan
Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan tumbuh dari gagasan sederhana namun kuat: bahwa pangan yang kita konsumsi seharusnya tidak sekadar datang dari rak supermarket, tetapi dari “hubungan.” Hubungan antara tanah yang dirawat, petani yang bekerja dengan penuh perhatian, dan anggota yang mendukung proses itu melalui kebersamaan. Karena itu, setiap langkah yang kami ambil selalu dimulai dari mendengar dan membangun bersama.
Dalam program Urban Futures (UF), konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) bersama Seni Tani dan AKATIGA berupaya membangun sebuah komunitas konsumen yang kuat. Salah satu langkahnya adalah dengan menyelenggarakan musyawarah anggota pertama pada tanggal 24 Mei 2025 yang dikemas dalam bentuk diskusi reflektif. Kami mengundang anggota untuk merefleksikan bersama tentang pengalaman mereka dalam berlangganan: apa yang berjalan baik, apa yang perlu ditingkatkan, dan apa yang mereka harapkan dari komunitas ini ke depan.

Hasil Diskusi Kelompok Anggota CSA dalam Diskusi Reflektif 24 Mei 2025
(Credit Foto: Seni Tani/2025)
Dari banyak masukan yang muncul, satu suara terdengar paling sering: variasi sayuran dalam paket mingguan terasa kurang. Kami melihat hal ini bukan sebagai keluhan, melainkan perhatian yang sangat wajar, karena variasi mempengaruhi gizi, pengalaman memasak di rumah, dan loyalitas anggota untuk tetap berlangganan. Suara ini menjadi titik tolak bagi upaya kami untuk memperkuat sistem produksi dan memperkaya keberagaman pangan di CSA.
Ketika Variasi Menjadi Tantangan yang Perlu Diatasi Bersama
Menjawab kebutuhan tersebut tidaklah mudah, kondisi perkotaan membawa batasan alami: lahan sempit, cuaca yang sulit ditebak, rotasi tanaman yang terbatas, serta tekanan hama yang berbeda dari pedesaan.
Karena itu, kami menyadari bahwa langkah berikutnya adalah membuka jaringan kerja sama lebih banyak dengan petani di Bandung Raya. Dalam program UF, kami berupaya untuk membangun jejaring baru dengan 15 orang petani muda yang tersebar di wilayah Bandung Raya. Mereka adalah orang muda yang berada di usia dari 18-35 tahun yang sudah memulai memproduksi pangan, baik itu berkebun ataupun berternak. Dalam program ini kami juga mengadakan pelatihan dan pendampingan agar para petani muda memiliki wawasan dan juga keterampilan untuk memproduksi pangan yang selaras dengan alam. Melalui jejaring baru ini, variasi tanaman mulai bertambah dan paket CSA menjadi lebih kaya.
Hasilnya, setelah bulan Mei, keragaman variasi produk yang kami tawarkan di Tani Sauyunan makin meningkat seperti yang bisa dilihat dari gambar 2 berikut.

Grafik Peningkatan Jumlah Variasi Produk Pangan dalam Tani Sauyunan
(Credit Foto: Seni Tani/2025)
Namun perlu dipahami bersama bahwa ketika jumlah petani bertambah, sistem CSA yang kami bangun juga menjadi lebih kompleks. Setiap kebun memiliki cara tanam, kondisi lahan, dan pengalaman yang berbeda. Keberagaman ini memberi kita kekayaan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan, bagaimana memastikan kualitas tetap terjaga ketika praktik yang digunakan oleh petani tidak seragam?
CSA dan Kepercayaan: Fondasi yang Tidak Boleh Retak
CSA berbeda dari sistem jual-beli sayur yang transaksional. Komunitas ini berdiri di atas hubungan saling percaya: anggota percaya bahwa petani menanam dengan cara yang baik, dan petani percaya bahwa anggota menghargai proses panjang di balik setiap panen. Ketika jaringan petani berkembang, jarak informasi juga menjadi semakin jauh. Anggota mungkin belum mengenal semua mitra baru, belum melihat cara tanam mereka, atau belum memahami kondisi di lapangan. Wajar bila muncul pertanyaan: apakah sayuran ditanam secara aman? Apakah tanah dirawat dengan cara yang ramah lingkungan? Apakah nilai pertanian regeneratif tetap dijaga?
Setiap pertanyaan itu sepenuhnya sah. Justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang menunjukkan bahwa anggota CSA peduli terhadap apa yang mereka konsumsi.
Solusi umum yang dilakukan untuk memenuhi kepercayaan konsumen adalah menggunakan sertifikasi organik. Sertifikasi memang terdengar meyakinkan, tetapi untuk konteks petani kecil dan kebun kota, jalan ini tidak realistis.
Lahan kecil menghasilkan panen terbatas sehingga biaya sertifikasi menjadi sangat tinggi dibanding manfaatnya. Selain itu, karena hasil panennya terbatas, petani tidak dapat menjangkau pasar supermarket maupun untuk memenuhi pasar ekspor, sehingga tidak mendapatkan tambahan manfaat dari sisi ekonominya.
Berkaca dari pengalaman, kami melihat bahwa proses sertifikasi juga cenderung rumit dan birokratis, membutuhkan banyak dokumen, dan lebih menekankan kelulusan daripada proses pembelajaran. Sertifikasi formal juga tidak menawarkan nilai jual yang signifikan bagi komunitas seperti CSA, yang justru mengandalkan kedekatan dan keterbukaan, bukan label.
Karena itu, kita membutuhkan pendekatan penjaminan kualitas yang lebih sesuai dengan skala, nilai, dan hubungan di dalam komunitas ini.
Cara Komunitas Menjamin Kualitas Pangan
Inilah alasan mengapa banyak komunitas pangan di dunia mencari solusi lain, yaitu Participatory Guarantee System (PGS). Berbeda dengan sertifikasi formal, PGS dibangun dari semangat kebersamaan dan kepercayaan. Dalam PGS, kualitas pangan dijaga bukan oleh auditor eksternal, tetapi oleh komunitas itu sendiri, oleh petani, anggota, dan tim kecil yang melakukan kunjungan dan evaluasi secara terbuka.
Kunjungan kebun menjadi ruang dialog. Petani saling belajar, berbagi praktik terbaik, dan memperbaiki kendala bersama. Anggota melihat langsung bagaimana pangan mereka ditanam, sehingga kedekatan informasi kembali terbangun. Fokus PGS bukan pada mencari kesalahan, tetapi untuk membangun transparansi dan pemahaman. Biayanya hampir nol, tetapi dampak sosialnya sangat besar, karena PGS menghidupkan kembali hubungan yang sering hilang dalam sistem pangan konvensional.

Contoh-Contoh Penerapan PGS di Dunia
PGS bukan eksperimen baru. Di India, lebih dari 20 petani dalam satu kelompok melakukan kunjungan silang dan melibatkan konsumen dalam proses verifikasi, menghasilkan sertifikasi kolektif berbasis catatan lapangan. Di Amerika Serikat, program Certified Naturally Grown menjadi alternatif organik yang lebih inklusif bagi petani kecil, dengan laporan inspeksi yang terbuka untuk umum. Brazil melalui Rede Ecovida menggabungkan petani, konsumen, dan organisasi pendamping dalam pertemuan rutin untuk mengevaluasi praktik secara dialogis. Thailand dengan Green Net juga menekankan audit kolaboratif antara petani dan konsumen sebagai bagian dari proses belajar.
Semua contoh ini memperlihatkan bahwa PGS, sederhana, murah, efektif, dan sangat cocok untuk komunitas petani skala kecil seperti Tani Sauyunan.
PGS di Tani Sauyunan: Dari Menjamin Kualitas ke Menjaga Kebaikan Pangan
Dalam Tani Sauyunan, kami memiliki pandangan bahwa kualitas panen tidak hanya ditentukan pada hasil akhirnya, tetapi juga oleh bagaimana tanah dirawat, bagaimana relasi dibangun, bagaimana nilai-nilai ekologis diterapkan, dan bagaimana prosesnya membawa manfaat bagi semua pihak dalam rantai produksi. Karena itu, kami menggeser fokus dari sekadar “penjaminan kualitas” menjadi “menjaga kebaikan pangan,” proses yang lebih hangat, lebih manusiawi, dan lebih sesuai dengan nilai CSA.

Sesi Diskusi tentang Menjaga Kebaikan Pangan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
Dalam sesi diskusi reflektif yang diadakan pada tanggal 23 November 2025, kami kembali mengajak anggota untuk duduk bersama dan membayangkan apa saja peran anggota dalam menjaga kebaikan pangan. Kami juga merumuskan kegiatan seperti apa yang cukup realistis untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kami sadar bahwa PGS hanya dapat berjalan jika seluruh anggota ikut terlibat, namun keterlibatan itu tidak harus berat. Beberapa ide yang muncul adalah kunjungan kebun dua sampai tiga kali setahun, mengamati proses tanam, mengambil foto atau video singkat, atau sekadar berbagi pengalaman kepada anggota lain. Semua itu membantu membangun jembatan informasi yang memperkuat kepercayaan. Sering kali, cerita sederhana dari kunjungan lapangan memiliki kekuatan lebih besar daripada label sertifikasi mana pun.
Membangun Sistem yang Hidup
Pada akhirnya, upaya menjaga kebaikan pangan dalam CSA Tani Sauyunan bukanlah tentang menciptakan sistem yang sempurna, melainkan sistem yang hidup, sistem yang tumbuh dari kepercayaan, keterbukaan, dan partisipasi para anggotanya. PGS memberi kita kerangka yang selaras dengan nilai tersebut: bukan sekadar alat verifikasi kualitas, tetapi ruang belajar bersama untuk menjaga hubungan antara petani dan anggota agar tetap dekat dan bermakna. Dalam proses itu, kualitas pangan tidak hanya dilihat dari hasil panen, tetapi dari cara komunitas merawat relasi dan memahami proses produksi secara kolektif.
Tantangan tentu akan terus muncul, terutama ketika jaringan petani bertambah dan praktik budidaya semakin beragam. Namun, lewat dialog rutin, kunjungan kebun, dan bentuk keterlibatan sederhana lain yang dilakukan secara konsisten, kita dapat memastikan bahwa jembatan informasi tetap terbuka dan kepercayaan terus terbangun. Dengan demikian, Tani Sauyunan bukan hanya menghadirkan sayuran setiap minggu, tetapi juga merawat sebuah ekosistem kepercayaan yang menjadi fondasi bagi masa depan pangan yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.**
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan.
Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.