Gambar 1. Tian ala Seni Tani
(Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025)
Salam dari Tian, menu makanan klasik dari Prancis Selatan. Terbuat dari irisan tipis aneka sayuran yang disusun secara berlapis dan dipanggang. Memasak Tian kali ini terasa spesial bagi saya, karena menggunakan sayur mayur dari Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan. Maka, saya sebut ini Tian ala Seni Tani!
***
Terong ungu di Kebun Seni Tani sudah siap panen. Melihat proses tumbuh dari mulai semaian, menjadi tanaman berdaun, berbunga, lalu berbuah, rasanya sungguh menyenangkan. Penantian selama empat bulan masa tanam terbayarkan sudah saat memanennya.
Terong ungu adalah sayuran favorit saya. Diolah menjadi apapun saya akan suka: sambel terong, terong balado, terong raos, atau terong crispy, semua terasa menggiurkan.

Gambar 2 dan 3. Bunga Terong Ungu dan Buah Terong Ungu di Kebun Seni Tani
(Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025)
Sebagai pemanen terong ungu perdana dari kebun, saya merasa sayuran ini patut diapresiasi. Setelah mempertimbangkan jenis sayuran lain yang saya dapatkan, maka tercetuslah menu Tian. Meski perlu kesabaran dan waktu sekitar tiga jam proses memasaknya, saya menantang diri sendiri untuk bisa mengolah menu ini.
Tian yang saya masak terdiri dari terong ungu, ubi kuning, tomat, dan wortel. Masing-masing diiris tipis, lalu disusun berseling. Di setiap irisannya saya membayangkan, bagaimana sayuran-sayuran itu ditumbuhkan. Setidaknya, semua sayuran ini perlu waktu tiga bulan untuk tumbuh dan dirawat oleh para petani setiap hari. Melalui CSA Tani Sauyunan, rasa empati semakin kuat karena saya mengenal siapa petani di balik hasil sayuran-sayuran itu.
Dari Kebun ke Dapur
Sebagai penambah rasa, saya membuat saus dari buah tomat ceri yang diberi irisan bawang putih. Tomat ini juga ditanam di Kebun Seni Tani. Setelah empat bulan masa tanam, buahnya tumbuh berlimpah, sehingga setiap yang datang ke kebun dapat langsung panen dan mencicipinya. Rasa buahnya asam dan segar. Warnanya yang merah cerah ikut memeriahkan kebun.

Gambar 4. Tomat Ceri dari Kebun Seni Tani
(Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025)
Tidak hanya dari Kebun Seni Tani, ada wortel yang ditanam oleh Pak Odang di Kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Musim lalu ia mengalami gagal panen karena kekeringan, sehingga wortel yang dihasilkan sangat kecil. Kali ini, curah hujan cukup tinggi, wortel yang ditanam Pak Odang tumbuh dengan baik, meski sebagian bentuknya unik tak beraturan, bercabang dua, atau bahkan bercabang empat. Seluruh hasil bumi ini kami terima dengan baik, sebagai bentuk usaha menekan jumlah food loss di kebun.

Gambar 5 dan 6. Wortel Unik yang Ditanam Pak Odang & Kebun Pak Odang
(Credit Foto: Mentari Alwasilah & Danisya /2025)
Tambahan sayur lainnya adalah ubi kuning. Salah satu sayuran favorit para anggota CSA Tani Sauyunan. Biasanya, ubi ini saya kukus saja untuk cemilan sehari-hari. Tapi kali ini, saya coba tambahkan menjadi bagian dari Tian, sebagai penambah rasa manis. Awalnya saya cukup ragu teksturnya akan keras dan khawatir rasanya tidak cocok, ternyata, paduan sayuran ini semua sangatlah sempurna!
Ubi kuning itu berasal dari Buruan Sae Manglayang, ditanam oleh sekelompok pemuda, salah satunya adalah Ginan. Mereka menerapkan konsep bertani untuk menghidupi kelompok sendiri atau yang biasa disebut dengan subsisten. Jika surplus, maka kelebihannya akan diolah dahulu untuk dijual kembali.

Gambar 7. Foto bersama di Buruan Sae Manglayang (Kiri ke Kanan: Taufiq, Ginan, Indra, Nada)
(Credit Foto: Taufiq Hamzah /2025)
Ginan adalah salah satu peserta Pelatihan Petani dan Peternak Muda yang sedang berproses bersama Seni Tani di CSA Tani Sauyunan. Lewat dukungan konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) dalam program Urban Futures bersama Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, ia belajar praktik pertanian regeneratif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Buruan Sae Manglayang adalah bukti nyata bahwa petani muda dapat berkontribusi untuk sistem pangan lokal di Kota Bandung.
Program Pelatihan Petani dan Peternak Muda yang telah dimulai sejak Januari 2025 ini turut mewarnai CSA Tani Sauyunan. Lima belas orang muda–termasuk Ginan, membuka ruang lintas generasi antar petani, sekaligus membantu mengakomodir kebutuhan anggota CSA agar bisa menyusun menu konsumsi yang beragam
Food Preparation
Menumbuhkan praktik CSA bersama Seni Tani memberikan pemahaman saya akan sistem pangan lokal yang bermakna. Memasuki tahun kelima CSA Tani Sauyunan meningkatkan resiliensi saya untuk mengolah apa yang dihasilkan dari lingkungan sekitar. Saya merasa cukup dan semakin tertantang untuk bisa memasak bahan baku yang tersedia. Dikarenakan saya merasa bertanggung jawab untuk menghabiskan jatah sayuran dari kebun, saya mengupayakan food preparation untuk menjaga sayuran tetap segar dan mengurangi potensi food waste di rumah.
Setiap Kamis, saya bersiap lebih awal. Di hari itulah kami, para anggota Seni Tani, mengemas hasil panen untuk anggota CSA Tani Sauyunan. Jika stok sayur melimpah, sebagian kami olah dan santap bersama di kebun; jika tidak sempat, kami bagikan untuk tim lapangan..
Memasak di rumah adalah momen me-time bagi saya. Membawa bekal ke luar rumah pun menjadi kebiasaan rutin untuk menjaga pola makan dan berhemat. Sayuran dari Seni Tani melengkapi komitmen usaha saya sekeluarga untuk konsumsi real food, pangan alami tanpa bahan kimia sintetis, ditanam dengan prinsip keberlanjutan, dan disertai cerita dari para petani di baliknya. Sehingga bagi saya, satu paket sayuran ini lebih dari sekedar sayur, tapi kerjasama semesta.

Gambar 8. Sayuran dari CSA Tani Sauyunan
(Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025)
Setelah dijalankan secara konsisten, food preparation menjadi rutinitas yang menyenangkan. Dengan metode yang tepat, sayuran ini dapat terjaga hingga 5-7 hari di kulkas. Saya membagikan tipsnya melalui Instagram.
Selain itu, saya juga mengusahakan untuk memaksimalkan pengolahan bahan makanan. Seperti membuat cake dari sisa ampas jus agar tidak terbuang percuma. Cerita ini juga saya susun dalam konten Instagram berikut ini.
Tian sudah siap di panggang!

Gambar 9. Tian berisi sayuran yang sudah disusun dengan taburan keju
(Credit Foto: Mentari Alwasilah/2025)
Setelah mengiris, menyusun dan membuat saus tomat dengan penuh sadar dan sabar, akhirnya Tian sudah siap di panggang. Tak lupa, saya menambahkan taburan keju diatasnya sebagai penambah rasa. Sebuah proses memasak yang menyenangkan, rasanya seperti berdialog dengan semesta alam yang saling terkoneksi.
Tian ala Seni Tani ini dipersembahkan untuk kita semua, agar bisa menikmati masakan rumahan dengan penuh rasa syukur.**
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan.
Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.