Minggu pagi, 14 Desember 2025, puluhan orang berkumpul di Kebun Seni Tani untuk mengikuti NgeRuk: Ngebun Seru, Yuk! #8 bertajuk “Microgreens: Superfood Mini untuk Hidup Sehat”. Kegiatan ini bukan sekadar kelas berkebun singkat, tapi juga sebagai ruang belajar bersama untuk mendekatkan kembali masyarakat, khususnya warga urban, dengan tanah dan sumber pangannya.
Sebagai salah satu peserta, saya datang dengan dorongan personal: keinginan untuk mengambil kembali satu hal yang sering terlupakan dalam kehidupan kota, yakni relasi dengan tanah dan sumber pangan sehari-hari.
Sejak awal, suasana kegiatan terasa hangat dan hidup. Sesi dibuka dengan perkenalan unik: setiap peserta dimina menyebutkan nama dan menjawab pertanyaan, “Kalau jadi tanaman, ingin jadi apa dan kenapa?” pertanyaan sederhana ini memaksa kami berhenti sejenak, berpikir, mengenali diri, sekaligus membangun relasi emosional dengan tanaman, bukan sekadar sebagai objek konsumsi, tetapi juga sebagai makhluk hidup yang tumbuh dan dirawat.
Pada sesi pengantar, Vania, salah satu pendiri Seni Tani, memantik refleksi yang cukup menohok. Ia menceritakan kisah seorang anak yang enggan memakan sayur hasil panennya sendiri karena sayuran tersebut dianggap “bukan sayur yang biasa ibunya beli di supermarket, ini dari tanah”. Cerita ibu bukan sekedar membuat sedih, tapi juga hadir sebagai sebuah peringatan.
Jika seorang anak bisa merasa asing terhadap tanah, bahkan menolaknya, lalu bagaimana kita bisa berharap generasi berikutnya bisa memahami arti pangan, peran petani, dan ekosistem yang menopang kehidupan? Allih-alih berhenti pada keluhan, kegiatan NgeRuk menawarkan jalan lain: ajakan untuk bertindak. Untuk kembali menyentuh tanah, memahami proses tumbuh, dan membangun kebiasaan pangan yang lebih berdaulat, dimulai dari hal sederhana dan dari saat ini.
Di titik inilah sesi microgreens terasa seperti jawaban yang sangat mungkin untuk dilakukan, bukan sekadar wacana yang mengawang. Fathan, fasilitator sesi, membuka materi dengan pertanyaan sederhana “Siapa disini yang pernah menanam microgreens?” Beberapa peserta menjawab dengan mengenang pengalaman masa sekolah, menanam toge di kapas, menyimpan kacang hijau di bawah kardus, ada yang berhasil, ada pula yang berujung busuk.
Dari diskusi itu saya menangkap satu pesan penting: banyak dari kita sebenarnya pernah bersentuhan dengan praktik menanam, hanya saja belum pernah menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.
Kemudian diskusi pun berlanjut, tentang mitos “tangan dingin” dan “tangan panas.” Apakah benar ada orang yang memang ditakdirkan oleh semesta untuk bisa menanam, sementara yang lainnya tidak? Salah satu peserta menimpali pertanyaan tersebut dengan jujur: masalahnya bukan bakat, melainkan konsistensi merawat. Kalimat itu menempel di kepala saya, karena ia memindahkan urusan bercocok tanam dari ranah mistik ke ranah tindakan. Dengan kata lain, jika microgreens gagal tumbuh, bukan semesta yang menolak; mungkin kita hanya belum membangun ritmenya.

Fathan (Pemateri) Menjelaskan tentang Cara Menanam Microgreens
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
Fathan menjelaskan bahwa microgreens adalah tanaman yang dipanen di usia sangat muda, fase transisi setelah berkecambah, yaitu di antara kecambah (sprouts) dan sayur daun yang lebih besar (baby leaf). Ia menekankan bahwa microgreens menyimpan kandungan nutrisi awal yang sangat kaya, sekaligus menawarkan pengalaman panen cepat: dari benih, disebar, lalu dipanen. Disitulah letak daya pikatnya bagi warga kota: Microgreens pada hakikatnya tidak menuntut lahan luas, tidak menuntut alat mahal, dan tidak menuntut kita menjadi ahli. Melainkan, hanya membutuhkan satu hal: Mulai!
Dari sini, microgreens menjelma sebagai simbol: kecil, tapi strategis. Ia dapat menjadi bentuk “latihan” kemandirian pangan di ruang-ruang urban, mulai dari hiruk-pikuk dapur warga, celah-celah cahaya di jendela, hingga sudut-sudut gang yang sempit. Microgreens juga cocok untuk dijadikan sebagai instrumen pendidikan yang cepat menghasilkan. Anak-anak dapat belajar siklus hidup tanaman tanpa harus menunggu terlalu lama. Dan yang paling penting, microgreens menawarkan pengalaman berhasil yang sering kita butuhkan untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Salah Satu Peserta Menyemprot Hasil Semaian
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
Maka kemudian saya pulang dengan satu keputusan proaktif: Microgreens tidak boleh hanya berhenti sebagai pengalaman dua jam di kebun. Pengalaman ini harus menjadi kebiasaan kecil yang berulang, disiram, dipindahkan ke cahaya, dipanen, lalu ditanam lagi. Sebab perubahan besar seringkali lahir bukan dari niat yang menggebu, tetapi dari tindakan yang konsisten. Jadi, pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak?”, melainkan, “kapan kita mulai menyemai?”
Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari program Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan.
Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.