Di tepi jalan tol Buah Batu yang riuh dengan lalu-lalang kendaraan, sebuah kebun tumbuh di antara tanah keras dan debu jalanan. Pagi itu, Minggu, 19 Apil 2026, Rendi berjalan paling depan sambil menunjuk petak-petak tanam di Kebun Tepi Kota miliknya. Sesekali ia berhenti untuk menjelaskan kondisi tanah yang mudah retak saat kemarau dan berubah becek ketika hujan turun deras. Di belakangnya, empat petani muda: Ginan (Buruan Manglayang), Johar (Buruan Sae Campernik), Yuna (Kelompok Mandiri Pangan), dan Sunarto (Buruan Sae Mitra Dago), mengikuti sambil memperhatikan setiap sudut kebun yang berada di dalam Komplek Sapta Taruna PU, Bandung itu.
Kebun yang berdampingan langsung dengan pagar tol itu menjadi lokasi penyelenggaraan Collective Forum 1, forum yang diinisiasi Seni Tani sebagai bagian dari pendampingan petani muda mitra CSA Tani Sauyunan dalam program Urban Futures. Berbeda dari pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan di ruang diskusi, forum kali ini dilakukan dengan mengunjungi langsung kebun milik mitra.

Rendi (berbaju coklat) saat menunjukkan kondisi Kebun Tepi Kota yang dikelolanya kepada para peserta forum. Kebun Tepi Kota berlokasi di pinggir jalan tol Buah Batu, Bandung.
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2026)
Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama mengunjungi kebun milik Rendi. Di Kebun Tepi Kota, Rendi memperlihatkan area tanam, sumber air, hingga kolam ikan yang sedang dibangun. Ia juga bercerita tentang rencananya menambah ternak ayam dan ikan untuk menciptakan ekosistem kebun yang lebih berkelanjutan.
Tapi, mengelola kebun di tengah kota bukan perkara mudah. Tanah keras yang sulit ditanami sayuran, serangan tikus, hingga hasil panen yang sering hilang diambil orang lain, sering terjadi di kebun milik Rendi. Gulma di sekitar tanaman juga tumbuh sangat cepat, terutama saat musim hujan.
Johar, petani muda dari Buruan Sae Campernik, aktif bertanya mengenai sistem aliran air kolam yang sedang dibangun. Percakapan tentang pipa, keran air, hingga suhu kolam, mengalir santai di tengah matahari yang mulai terik.
“Untuk pondasi, kolam hanya akan diaci tanpa keramik. Karena keramik dapat meningkatkan suhu kolam dan berdampak buruk bagi ikan. Rencana awal, daun pepaya akan dimasukkan terlebih dahulu untuk menstabilkan pH kolam,” jelas Rendi kepada yang lainnya.
Setelah berkeliling, para peserta berpindah ke Mushola di dekat kebun untuk melanjutkan sesi forum bersama tim pendamping dari Seni Tani, Galih dan Taufiq. Di ruang itu, satu per satu para petani muda mulai menceritakan kondisi kebun mereka: tentang tanah, cuaca, panen, hingga tantangan untuk mempertahankan kebun pangan di tengah keterbatasan ruang kota.
Johar juga bercerita tentang kebun atap yang ia kelola bersama guru dan siswa di sebuah atap bangunan sekolah. Kebun tersebut masih bergantung pada pompa untuk kebutuhan irigasi. Johar juga mengaku sempat mencoba membuat kandang ayam, tapi hanya bertahan seminggu sebelum dipindahkan karena pihak sekolah meminta agar kondisi lingkungan tetap kondusif.
Meski demikian, kebun atap itu tetap menghasilkan panen seperti cabai rawit, kangkung, dan jahe merah.
Dari Cileunyi, Ginan membawa cerita tentang Kebun Buruan Manglayang dengan tanah merah yang mudah retak saat kemarau, tapi cepat menyerap air saat hujan turun. Di kebunnya, ayam dan kambing dipelihara dalam kandang permanen berbahan besi dan semen. Di kebun Ginan gangguan terbesar justru datang dari nyamuk.
“Katanya bisa dibuat kolam supaya ada capung yang jadi predator alami nyamuk,” kata Ginan.
Di kebun Ginan, lemon menjadi komoditas unggulan, karena banyak diminati anggota konsumen CSA Tani Sauyunan. Selain lemon, kebunnya juga menghasilkan sukun, pepaya, dan gambas.
Sementara itu, Yuna dari Kelompok Mandiri Pangan di Cimenyan menghadapi persoalan berbeda. Ketersediaan air menjadi tantangan utama. Kelompoknya sangat bergantung pada musim hujan untuk memenuhi kebutuhan irigasi kebun. Di kebun itu, Yuna dan kelompoknya menanam labu siam, singkong, pepaya, hingga kacang roay.
Dari Antapani, Sunarto, perwakilan Buruan Sae Mitra Dago menutup sesi berbagi dengan cerita tentang kebun komunal yang dikelola bersama warga sekitar. Di kebunnya, bayam brasil menjadi andalan. Hasil panennya bisa mencapai dua hingga tiga kilogram per minggu. Selain itu, kebun komunal yang dikelola Sunarto juga menghasilkan rambutan, alpukat, singkong, dan ubi.

Para peserta Collective Forum 1 saat berdiskusi tentang standar kualitas pangan. Sesi diskusi ini difasilitasi oleh Galih dan Taufiq dari Seni Tani.
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2026)
Di akhir forum, pembahasan beralih pada sesuatu yang sering luput dari perhatian: standar kualitas hasil panen. Galih dan Taufiq mengajak para petani mendiskusikan perbedaan antara hasil panen yang layak dikonsumsi dan layak didistribusikan ke konsumen.
Foto-foto sayur dan buah dipajang sebagai studi kasus. Beberapa terlihat masih segar, tetapi ternyata dianggap tidak layak distribusi karena bentuk, tekstur, atau tingkat kematangannya. Para petani kemudian membandingkan hasil panen dari kebun mereka masing-masing.
Ketika ditanya soal waktu panen terbaik, Ginan menjelaskan bahwa buah dan sayur sebaiknya tidak dipanen saat hujan dan lebih baik dipetik pada pagi hari. Karena, panen di siang hari dinilai dapat menurunkan kualitas hasil panen.
Menurut Galih, ada hasil panen yang masih bisa dikonsumsi, tetapi sulit diterima pasar karena konsumen tidak melihat langsung proses pertumbuhannya. Berbeda dengan petani yang menyaksikan sendiri bagaimana tanaman bertahan dari hujan, tanah retak, gulma, hingga serangan hama, sebelum akhirnya bisa dipanen dan tiba di meja makan.
Diskusi hari itu memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak berhenti pada proses menanam. Ada standar pasar yang harus dipenuhi, sekaligus pengetahuan baru yang perlu dipelajari bersama.**
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari program Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan.
Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.