Berawal dari rasa ingin tahu dan ketertarikan pada dunia pertanian, ternyata semesta seolah memberi banyak dukungan. Perjalanan ini dimulai ketika saya diperkenalkan dengan salah satu komunitas pertanian urban di Bandung, yaitu Seni Tani. Setelah menelusuri media sosial serta berbagai konten yang mereka bagikan, saya merasa terinspirasi dan terdorong untuk ikut berkegiatan bersama komunitas tersebut. Kesempatan itu akhirnya datang melalui kegiatan “NgeRuk! #9: Menumbuhkan Jamur di Rumah”. Seolah mendapat rezeki nomplok, saya langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Tibalah hari pelaksanaan kegiatan, yaitu pada Sabtu, 24 Januari 2026. Para peserta dari kalangan pemuda dengan latar belakang yang beragam satu per satu berdatangan. Ada yang berasal dari lembaga pengelola zakat, ada dari karang taruna, ada dari kalangan pendidikan, ibu rumah tangga, dan lainnya. Cuaca Bandung saat itu cukup mendung dengan suhu yang dinginnya terasa menusuk. Namun, semangat untuk NgeRuk tidak surut. Soalnya, suasana yang dibangun terasa sangat hangat.
Sebagai pembuka, kami berkenalan satu sama lain dengan cara yang unik. Perkenalan dimulai oleh Vania dari tim Seni Tani, dengan memberikan aturan bahwa setiap orang yang berkenalan harus disertai dengan pose yang unik. Para peserta pun mengikutinya dengan antusias.
Selanjutnya, kegiatan dimulai dengan pengenalan Seni Tani serta pengenalan narasumber. Pada kesempatan kali ini, NgeRuk “Menumbuhkan Jamur di Rumah” dipandu oleh Vania sebagai MC dan narasumber Widya Putra dari MusHome.

Pemaparan Materi oleh Widya dari Mushome
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
Sebelum masuk ke topik utama, terlebih dahulu disamakan persepsi bahwa jamur yang menjadi materi pembelajaran adalah jenis jamur yang dapat dikonsumsi (consumable). Widya memperkenalkan beragam jenis jamur tersebut, diantaranya jamur tiram (Pleurotus sp.), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur shiitake (Lentinula edodes), jamur merang (Volvariella volvacea), dan jamur kancing (Agaricus bisporus).
Di antara berbagai jenis tersebut, yang paling populer dan relatif mudah dibudidayakan adalah jamur tiram. Jamur tiram sendiri terbagi ke dalam beberapa varietas, antara lain jamur tiram putih, jamur tiram cokelat, jamur tiram kuning, serta jamur tiram berwarna merah muda (pink). Namun, varietas yang umum dikembangkan di Indonesia adalah jamur tiram putih dan cokelat. Di antara keduanya, jamur tiram putih paling banyak dibudidayakan karena jamur tiram cokelat cenderung lebih mahal dan relatif lebih sulit dalam proses budidayanya. Adapun varietas kuning dan merah muda tidak begitu populer dan umumnya dimanfaatkan untuk keperluan penelitian. Widya menegaskan bahwa setiap warna jamur memiliki kandungan nutrisi yang berbeda, yang disebabkan oleh perbedaan pigmen pada masing-masing varietas.
Dari segi rasa, beberapa peserta berpendapat bahwa jamur tiram cokelat lebih enak dibandingkan jamur tiram putih. Penilaian ini berkaitan dengan persepsi kualitas yang dianggap lebih baik serta harga jual yang lebih tinggi. Salah satu faktor yang memengaruhi tingginya harga jamur tiram cokelat adalah hasil panen yang cenderung lebih rendah dibandingkan jamur tiram putih. Perbandingan hasil panennya dapat mencapai 2:1. Artinya, pada tempat dan jumlah media tanam yang sama, jika jamur tiram putih dapat menghasilkan sekitar 300 gram, maka jamur tiram cokelat hanya sekitar 150 gram saja.
Pemaparan mengenai ragam jenis jamur tersebut membuka wawasan peserta terkait keanekaragaman jamur, khususnya jamur tiram yang paling mudah dibudidayakan dan populer di Indonesia. Melalui penjelasan Widya, sebagai peserta saya tidak hanya memahami perbedaan varietas dari segi warna, nutrisi, dan rasa, tetapi juga faktor ekonomi yang memengaruhi proses budidaya serta harga jualnya.
Keunggulan Budidaya Jamur Tiram
Berikut empat keunggulan yang dapat diperoleh ketika mulai membudidayakan jamur tiram.
Pertama, bahan utama media tanam dapat memanfaatkan limbah organik yang persediaannya melimpah, harganya murah, dan mudah diperoleh. Media tanam dalam budidaya jamur tiram dikenal dengan sebutan baglog. Di dalamnya terdapat serbuk gergaji yang tidak mengandung getah. Satu karung serbuk gergaji dengan bobot sekitar 30–40 kg dihargai sekitar Rp7.000.
Kedua, budidaya jamur tidak memerlukan lahan yang luas. Ruangan berukuran 100 m² dapat menampung kurang lebih 10.000 baglog dengan estimasi pendapatan sekitar Rp10–12 juta per bulan. Jumlah tersebut dimungkinkan karena sistem budidaya menerapkan konsep vertical farming. Pada luasan yang sama, metode ini bahkan disebut mampu menghasilkan hingga 20 kali lipat dibandingkan hasil panen bayam.
Ketiga, produk jamur dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan asupan gizi. Jamur tiram mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat, antara lain untuk membantu menjaga keseimbangan gizi serta kesehatan jantung.
Keempat, kompos bekas media tanam dapat langsung dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Dengan demikian, sisa media tanam tetap memiliki nilai guna dan bahkan dapat menjadi bahan yang bernilai ekonomis.
Berbagai pembahasan tersebut menyadarkan bahwa memulai usaha pertanian, khususnya budidaya jamur, tidak selalu memerlukan modal besar. Justru dengan biaya yang relatif minim, potensi keuntungan yang diperoleh dapat cukup signifikan.
Prospek dan Peluang Budidaya Jamur
Budidaya jamur menjadi salah satu peluang yang menjanjikan bagi berbagai kalangan yang ingin mencoba bertani dengan risiko relatif minim. Secara ekonomi, usaha ini memerlukan modal yang relatif kecil dan terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Kebutuhan lahannya tidak terlalu luas, dan dari sisi teknologi, proses budidayanya tergolong sederhana. Selain itu, jangka waktu dari penanaman hingga panen relatif singkat.
Jamur juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomis, seperti keripik jamur, kaldu jamur, abon, rendang jamur, dan berbagai olahan lainnya. Variasi produk ini membuka peluang diversifikasi usaha yang cukup luas.
Melalui pemahaman tersebut, saya menyadari bahwa manfaat jamur tidak hanya terbatas pada aspek pertanian, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan kewirausahaan dan ekonomi kreatif.
Tahapan Budidaya Jamur
Budidaya jamur dapat dilakukan melalui dua cara.
Cara pertama menggunakan bibit yang dibuat langsung dari bagian jamur. Bagian jamur diambil dan dipotong di tempat yang bersih agar tidak tercampur dengan kotoran atau organisme lain. Potongan tersebut kemudian ditumbuhkan hingga menjadi bibit awal, lalu dikembangkan lagi menjadi bibit yang siap digunakan.
Cara kedua menggunakan media tanam yang disebut baglog. Prosesnya dimulai dari pengolahan bahan, lalu dilanjutkan dengan pemanasan untuk membunuh kuman dan organisme lain yang tidak diinginkan. Setelah itu, dihasilkan baglog yang siap ditanami bibit jamur.
Baik bibit dari cara pertama maupun baglog dari cara kedua, keduanya kemudian melalui tahap penanaman bibit ke dalam media. Proses ini biasanya dilakukan dalam waktu singkat, sekitar satu malam. Setelah itu, media disimpan di ruangan dengan kondisi tertentu agar jamur dapat tumbuh dengan baik.
Tahap berikutnya adalah masa pertumbuhan, di mana bagian akar jamur akan menyebar ke seluruh media tanam. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 30–40 hari, hingga permukaan media terlihat putih merata sebagai tanda pertumbuhan yang baik.
Setelah masa pertumbuhan selesai, media tanam dipindahkan ke ruang panen. Dalam waktu sekitar 7–10 hari, jamur mulai tumbuh dan muncul di permukaan. Pada kondisi ini, jamur sudah siap untuk dipanen.
Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar jamur tetap segar. Saat memanen, jamur sebaiknya diambil hingga ke bagian pangkalnya agar tidak meninggalkan sisa yang bisa membusuk dan memicu munculnya hama.
Budidaya Jamur dengan Skala Rumahan
Starter pack yang perlu disiapkan untuk menumbuhkan jamur di rumah tergolong sederhana dan ekonomis. Kita dapat langsung membeli baglog yang siap diinkubasi dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu sekitar Rp7.000–Rp10.000 per kantong. Baglog tersebut kemudian disimpan pada suhu ruang dengan pencahayaan minimal serta disemprot secara rutin pada pagi dan sore hari agar tetap lembap. Pada musim hujan, penyemprotan cukup dilakukan sekali sehari. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa baglog tidak ditempatkan di ruang terbuka.
Dengan langkah-langkah sederhana tersebut, saya semakin terdorong untuk mencoba menumbuhkan jamur secara mandiri.

Peserta Praktik Merawat Baglog Jamur
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Ady Nura/2025)
Pada kegiatan NgeRuk #9, peserta berkesempatan memperoleh baglog sebagai sarana praktik budidaya jamur secara langsung di rumah. Widya juga memberikan arahan serta saran mengenai perawatan baglog agar jamur dapat tumbuh optimal. Selain itu, peserta mendapatkan totebag berisi berbagai produk olahan jamur dari MusHome, seperti jamur krispi, abon jamur, dan kaldu jamur.
Lebih dari sekadar produk yang dibagikan, wawasan penting yang saya peroleh dari kegiatan ini adalah kesadaran bahwa setiap makanan yang tersaji di atas piring telah melalui proses dan perjalanan yang panjang, termasuk jamur. Pemahaman tersebut menumbuhkan sikap untuk lebih menghargai makanan yang dikonsumsi sekaligus menghargai peran petani sebagai produsen pangan. Bagi saya yang masih awam, kelas ini menjadi titik pencerahan yang membuka jalan untuk menelusuri lebih dalam ilmu bercocok tanam.**
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari program Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan.
Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.