Group 1321314532 (2)

Merawat Pangan, Merangkai Kebersamaan di Pasar Tani Sauyunan

Sinar matahari mulai terasa terik saat Pasar Tani Sauyunan semakin ramai pada Sabtu pagi, 12 September 2026. Pengunjung berdatangan, melihat-lihat sayuran dalam polybag dan menghirup aroma masakan dari lapak-lapak makanan. Sebagian berjalan menyusuri hamparan rumput, sementara yang lain duduk di atas alas piknik.

Pasar Tani Sauyunan menjadi acara puncak sekaligus ajang berbagi capaian program penguatan Community Supported Agriculture (CSA) – Tani Sauyunan. Program yang didukung oleh Urban Futures ini telah berjalan sejak pertengahan 2024. Acara tersebut diselenggarakan bersama oleh Seni Tani dan AKATIGA yang tergabung dalam Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA).

Suasana Pagi Pasar Tani Sauyunan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Anka Lasase/2026)

Digelar di SERHAYA Hall Asia Afrika, Pasar Tani mempertemukan konsumen dengan produsen lokal melalui kehadiran petani muda dari CSA Tani Sauyunan, berbagai merek ramah lingkungan, dan komunitas-komunitas di Bandung. Kegiatan ini juga menjadi ruang temu bagi pemerintah dan masyarakat untuk bertukar pandangan  dan pengalaman dalam membangun ketahanan pangan di Bandung.

Kota Bandung merupakan salah satu kota terpadat di Jawa Barat, dengan jumlah penduduk mencapai 2,55 juta jiwa (BPS, 2025). Tingginya kebutuhan pangan belum dapat dipenuhi oleh produksi lokal, sehingga sekitar 94% pasokan pangan Kota Bandung masih bergantung pada daerah lain (DKPP Kota Bandung, 2026). Ketergantungan ini diperparah oleh keterbatasan lahan pertanian, dengan hanya sekitar 700 hektare sawah aktif atau 4,2% dari luas wilayah kota (DKPP Kota Bandung, 2026). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat produksi pangan lokal untuk membangun sistem pangan perkotaan yang lebih tangguh. Di sisi lain, studi pemetaan sistem pangan oleh AKATIGA (2025) menunjukkan minat orang muda dalam pertanian tetapi menghadapi berbagai tantangan, seperti akses lahan yang terbatas.

Seni Tani melakukan upaya inisiatif sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan dengan model pertanian dengan dukungan komunitas atau Community Supported Agriculture (CSA). Melalui CSA Tani Sauyunan yang diinisiasi oleh Seni Tani, diharapkan petani muda di Kota Bandung bisa mendapatkan tempat untuk menyalurkan hasil panen mereka. Dalam Bahasa Sunda, “sauyunan” diartikan sebagai hidup yang rukun dan penuh kebersamaan dan gotong-royong, sesuai dengan makna komunitas dalam CSA.

Pasar Tani Sauyunan mengusung semangat kebersamaan berbagai pihak terhadap pangan Kota Bandung. Di Pasar Tani ini, setiap anggota CSA mendapatkan pojok pameran khusus. Para petani CSA membawa sayuran, ikan, pupuk dari kebun mereka untuk dipajang di sana. Pengunjung pun bisa mendapat gambaran tentang apa yang terjadi di kebun sebelum makanan masuk ke piring mereka.

Rangkaian Kegiatan di Pasar Tani Sauyunan

Acara dibuka pukul 08.30. Pembukaan ditandai dengan penyiraman simbolis bunga matahari yang menghiasi tepian panggung. Pagi itu, Pasar Tani Sauyunan juga menjadi tujuan akhir kegiatan lari Bandung Freerunners dan jalan kaki bersama Cerita Bandung.

Sesi Penyiraman Simbolis Sebagai Pembukaan Pasar Tani Sauyunan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Anka Lasase/2026)

Beragam pilihan olahan pangan dari Pamolahan Sangkuriang, Arumi, Lab Pangan, Warung Ubi Ibu, dan Sumber Serat menyambut pengunjung yang ingin mengisi perut. Sesi memasak bersama Lab Pangan turut mengundang antusiasme peserta. Pengunjung juga dapat menjelajahi produk di stan Toko Nol Sampah, Berkah Chicken, Jahitku, Soapinc, Kutanam.id, Kopikawan, dan Buah Lokal. Berbagai produk olahan dari orang muda Manggarai Barat turut hadir di pasar ini.

Pasar Tani Sauyunan berupaya menjaga penyelenggaraan acara tetap ramah lingkungan. Melalui kolaborasi dengan MIU (Mari Isi Ulang), tersedia pos pengisian ulang air minum bagi pengunjung yang membawa botol minuman sendiri. Plastavfall turut membuka stan edukasi tentang pemilahan dan pemanfaatan sampah.

Anak-anak dan orang tua dapat mengisi waktu dengan mengikuti lokakarya bersama Ibukardus. Sementara Pustakalana menghadirkan kegiatan melukis wajah yang turut meramaikan acara. Pengunjung juga dapat mencoba membuat zine dan merangkai bunga bersama Sporadies.

Suasana Bincang Sauyunan dan Diskusi Sauyunan
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Anka Lasase/2026)

Di panggung utama, pengunjung diajak terlibat dalam percakapan tentang sistem pangan. Diskusi pada awal hari menghadirkan pengelola, anggota konsumen, dan produsen dari CSA Tani Sauyunan untuk berbagi pengalaman. Diskusi selanjutnya mengajak perwakilan Seni Tani, AKATIGA, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung untuk membahas kebijakan dan inovasi sistem pangan di Bandung. Petani muda dari Bandung dan Manggarai Barat turut berbagi cerita tentang proses bertani, tantangan yang mereka hadapi, serta harapan terhadap kebijakan pangan dan sesama petani muda. Melalui sesi “Diskusi Sauyunan,” pengunjung juga mendapat ruang untuk menyampaikan pandangan mereka.

Kegiatan Penutupan dengan Pentas Seni
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Anka Lasase/2026)

Pasar Tani ditutup dengan dua penampilan istimewa. Pertama, anak-anak dari Rumah Belajar Ummasa membacakan dongeng karangan mereka tentang bahaya menyia-nyiakan makanan, diikuti oleh lagu yang mereka nyanyikan bersama. Terakhir, puncak dan penutup hari itu adalah tarian bertema pangan lokal dari Hot Mamah Dance Club.

Pasar Tani Sauyunan menjadi pengingat bagi saya bahwa, kalau kita mau berusaha, Bandung bisa sedikit demi sedikit bergerak menuju kemandirian pangan. Banyak orang yang sudah mulai bergerak untuk membawa perubahan ini. Tapi, perubahan merupakan tanggung jawab kita semua, dan masa depan ketahanan pangan Bandung ada di tangan kita.**

**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.

Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari program Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan. 

Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.

 

Frame 1686555751 (1)

Penulis:

Amarati Sidhi Djati

Baca Juga Tentang

Sinar matahari mulai terasa terik saat Pasar Tani Sauyunan semakin ramai pada Sabtu pagi, 12 September 2026. Pengunjung berdatangan, melihat-lihat

Gerakan pertanian kota yang tumbuh dari kepedulian bersama sering kali dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan produksi. Menanggapi tantangan

Di tengah Kota Bandung yang masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah, para petani dan peternak muda Mitra

Di tepi jalan tol Buah Batu yang riuh dengan lalu-lalang kendaraan, sebuah kebun tumbuh di antara tanah keras dan debu

Berawal dari rasa ingin tahu dan ketertarikan pada dunia pertanian, ternyata semesta seolah memberi banyak dukungan. Perjalanan ini dimulai ketika

Minggu pagi, 14 Desember 2025, puluhan orang berkumpul di Kebun Seni Tani untuk mengikuti NgeRuk: Ngebun Seru, Yuk! #8 bertajuk