Group 1321314532 (2)

Kunjungan Petani Muda ke Kebun Asik di Antapani

Gerakan pertanian kota yang tumbuh dari kepedulian bersama sering kali dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan produksi. Menanggapi tantangan ini, CSA Seni Tani menginisiasi sebuah kegiatan yang mempertemukan sekelompok petani muda pada tanggal 2 Mei 2026, mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, untuk mengunjungi Kebun Asik yang berlokasi di kawasan Kompleks Antapani, Kota Bandung. Kunjungan ini sekaligus menjadi latar tempat bagi pelaksanaan Collective Forum 2, sebuah ruang belajar bersama dan wadah partisipatif yang esensial dalam program Pendampingan Produsen Tahap 3 ekosistem Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan.

Acara dibuka dengan sambutan dari Fathan selaku perwakilan Seni Tani yang menyampaikan pentingnya membangun ruang belajar bersama melalui praktik pertanian perkotaan dan pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Edy sebagai perwakilan RT setempat yang turut menceritakan perjalanan dan perkembangan Kebun Asik hingga menjadi ruang hijau yang bermanfaat bagi warga sekitar.

Kebun Asik dari Waktu ke Waktu

Para peserta Collective Forum 2 saat berkeliling di Kebun Asik.
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Danisya Ersadianis/2026)

Kebun Asik lahir dari keresahan masyarakat terhadap persoalan sampah di Kota Bandung yang terus menumpuk dari hari ke hari. Di tengah padatnya kawasan permukiman, warga melihat adanya lahan tidur yang terbengkalai dan perlahan mengubahnya menjadi kebun urban farming yang produktif. Kebun ini tumbuh menjadi harapan baru bagi masyarakat sekitar.

Masyarakat memulainya dari langkah sederhana: memilah sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan sebagai media tanam dan penyubur tanah di kebun. Sementara itu, sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah yang dibentuk warga sebagai upaya pengelolaan limbah yang lebih baik.

Gerakan yang berjalan perlahan dan nyaris tanpa sorotan ini ternyata mampu menghadirkan dampak nyata. Jika pada awalnya Kebun Asik hanya mengelola sampah organik dalam lingkup RT, kini cakupannya telah berkembang hingga tingkat RW. Perjalanannya tentu tidak selalu mudah dan berbagai tantangan pernah menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. Namun, semangat gotong royong dan kepedulian masyarakat membuat setiap hambatan dapat terlampaui.

Tidak hanya fokus pada aktivitas berkebun, Kebun Asik juga menyediakan sebagian areanya untuk peternakan. Beberapa hewan yang diternak di antaranya adalah ayam petelur, burung puyuh, bebek, dan marmut.

Kini, Kebun Asik telah menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat bercocok tanam. Ruang hijau ini tumbuh menjadi pusat aktivitas warga, tempat masyarakat saling berbagi dan membangun kedekatan satu sama lain. Di sudut kebun, terdapat pojok baca sederhana yang menghadirkan suasana hangat bagi anak-anak maupun warga yang ingin menghabiskan waktu di tengah rindangnya tanaman.

Seiring perkembangannya, Kebun Asik mulai mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah kota sebagai tempat pengelolaan sampah organik bagi masyarakat sekitar. Kebun Asik juga bergabung dengan komunitas CSA Tani Sauyunan untuk mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan dan memperluas jejaring pembelajaran antar petani di Kota Bandung sekaligus terhubung langsung dengan konsumen. Kolaborasi ini membuka peluang baru bagi Kebun Asik untuk terus tumbuh, baik sebagai ruang hijau perkotaan maupun sebagai pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat.

Diskusi tentang Perencanaan Tanam

Para peserta Collective Forum 2 saat berdiskusi tentang kalender tanam. Sesi diskusi ini difasilitasi oleh Galih dari Seni Tani.
(Credit Foto: Humanis – Paguyuban Pangan/UF Indonesia/Danisya Ersadianis/2026)

Setelah berkeliling kebun dan melihat langsung berbagai aktivitas urban farming di Kebun Asik, para petani muda mengikuti sesi diskusi mengenai kalender tanam yang dibawakan oleh Galih selaku perwakilan dari CSA Seni Tani. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya perencanaan musim tanam, pengaturan komoditas, hingga strategi menjaga keberlanjutan hasil panen.

Suasana diskusi berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam simulasi penyusunan kalender tanam. Para petani muda mencoba memetakan waktu tanam, masa panen, serta jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan musim.

Setelah sesi simulasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan forum konsultasi yang dibagi menjadi dua kelompok kecil, masing-masing difasilitasi oleh Fathan dan Galih. Dalam suasana yang lebih santai, peserta berdiskusi langsung mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi di kebun masing-masing. Sesi ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempererat hubungan antar petani muda yang memiliki semangat serupa dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan di perkotaan.

Refleksi Pribadi

Perjalanan melihat langsung bagaimana warga di Kompleks Antapani menyulap lahan tidur menjadi Kebun Asik yang produktif, membawa ingatan saya pada esensi dari apa yang sedang kami diskusikan dalam Collective Forum 2 hari itu. Pertemuan para petani muda ini bukan sekadar membahas angka produksi atau jadwal panen di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar bersama untuk merajut kembali kedekatan antara manusia, makanan, dan tanah tempatnya berpijak. Ketika kami duduk melingkar memetakan draf kalender tanam agar pasokan pangan ke kota tetap terjaga, ada sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh: bahwa sistem pertanian yang sedang kami bangun ini adalah bagian kecil dari upaya merawat siklus kehidupan yang lebih besar.

Pengalaman sepanjang hari di kebun tersebut terasa begitu lekat saat saya membuka kembali buku Kodrat Alam karya Vandana Shiva. Dalam buku itu dijelaskan bagaimana alam seharusnya bekerja melalui siklus karbon atau siklus nutrisi yang mengalir di seluruh aspek kehidupan. Siklus ini menjadi dasar dalam kehidupan di Bumi. Berawal dari penyerapan karbon dioksida dari atmosfer, dengan bantuan sinar matahari, tanaman mengolahnya menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Manusia dan hewan memakan tanaman dan mengeluarkan karbon dioksida, lalu sisa bahan organik dari makhluk hidup kembali ke tanah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tanaman. Ketika siklus ini terputus, di situlah kekacauan alam bermula.

Rasanya kita perlu memperhatikan kembali sistem produksi dan konsumsi. Kita membuka lahan, menjadikannya pemukiman, menghilangkan area-area hijau sehingga tidak ada ruang untuk tanaman, tempat meresapnya air, dan mengolah sampah–tempat kembalinya bahan organik. Kita mengkonsumsi, menumpuk sampah pada satu tempat yang kita sebut TPA, dan tetap bisa merasa tenang tanpa tahu bagaimana akhir dari limbah yang kita produksi. Kita menciptakan semakin banyak limbah yang harus ditanggung oleh bumi dan pihak lain tanpa merasa bersalah. Barangkali yang kita butuhkan saat ini dimulai dari kesadaran bahwa kita juga adalah bagian dari entitas yang saling terhubung, tidak memaksakan ego dan kepentingan sepihak kepada alam, barangkali kita perlu sadar bahwa manusia adalah alam itu sendiri. **

**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.

Tentang Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA)
Konsorsium Paguyuban Pangan (PUPA) yang terdiri dari AKATIGA dan Seni Tani mempunyai fokus yang sama yaitu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda. Fokusnya termasuk kelompok marginal, dalam upaya produktif di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dan hal yang bermanfaat tidak hanya bagi generasi muda itu sendiri tetapi juga bagi komunitas dan masyarakat luas. Tujuan dari program Urban Futures adalah untuk mendorong kolaborasi dan advokasi generasi muda untuk penetapan prioritas dalam peningkatan kebijakan pangan inklusif, selaras dengan pembelajaran dan bukti dari penelitian AKATIGA. Sementara itu, program Seni Tani memperkuat relevansi konsep sistem pangan lokal yang kami tawarkan, dengan landasan kuat dalam pengembangan Community Supported Agriculture (CSA) yang menampilkan mekanisme pertanian berkelanjutan. 

Tentang Urban Futures (UF)
Urban Futures (UF) adalah program global berdurasi 5 tahun (2023–2027) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Program ini dikelola oleh Hivos, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta mitra, jejaring, dan pakar lokal. Urban Futures beroperasi di 10 kota di Kolombia (Cali dan Medellín), Ekuador (Manabí dan Quito), Indonesia (Bandung dan Manggarai Barat), Zambia (Chongwe dan Kitwe), dan Zimbabwe (Bulawayo dan Mutare). Kota-kota perantara ini memiliki ukuran yang bervariasi namun memiliki kesamaan, yaitu berkembang dengan pesat, menghubungkan wilayah metropolitan dan pedesaan atau kelompok kota yang berbeda di dalam suatu sistem perkotaan, dan mengelola arus orang, barang, modal, informasi, dan pengetahuan. Masing-masing kota ini memiliki tantangan dan peluang yang berbeda.

Frame 1686555751 (1)

Penulis:

Nuzulia Purwanto

Baca Juga Tentang

Gerakan pertanian kota yang tumbuh dari kepedulian bersama sering kali dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan produksi. Menanggapi tantangan

Di tengah Kota Bandung yang masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah, para petani dan peternak muda Mitra

Di tepi jalan tol Buah Batu yang riuh dengan lalu-lalang kendaraan, sebuah kebun tumbuh di antara tanah keras dan debu

Berawal dari rasa ingin tahu dan ketertarikan pada dunia pertanian, ternyata semesta seolah memberi banyak dukungan. Perjalanan ini dimulai ketika

Minggu pagi, 14 Desember 2025, puluhan orang berkumpul di Kebun Seni Tani untuk mengikuti NgeRuk: Ngebun Seru, Yuk! #8 bertajuk

Dalam beberapa dekade terakhir, sistem pangan global menghadapi berbagai persoalan yang semakin nyata: kerusakan lingkungan akibat pertanian intensif, ketimpangan ekonomi